aku pernah membacamu di malam-malam sunyi, terima kasih sudah memberi pelajaran terbaik

Devi,


Aku tak tahu bagaimana caranya menulis ini tanpa log panggilan yang menjelma suaramu di kepalaku.
Sebab bahkan dalam diam paling sunyi, namamu masih mengetuk lirih rongga dadaku.
Dan kubiarkan itu terjadi, karena mencintaimu sudah menjadi kebiasaan harianku.

Waktu berlalu. Kita menjauh. Tapi entah mengapa, kenangan tak pernah tahu caranya pergi.
Hal-hal yang:
seperti caramu memandangku dengan mata yang dulu penuh rindu,
atau suaramu yang pernah kupercaya lebih dari dunia itu sendiri.

Aku ingin percaya bahwa kesalahanmu bukan karena kau tak mencintaiku, tapi karena kau belum punya panduan untuk mencintai seseorang dengan baik dan benar.
Dan mungkin, aku juga yang belum tahu cara memaafkan yang baik dan benar itu seperti apa.

Kita sama-sama terluka, saling mencintai dengan cara yang saling menyakiti.
Dan aku kehabisan cara untuk berpura-pura bahwa hatiku baik-baik saja.

Hari terakhir kita adalah sunyi yang masih terus menggema.
Kalimat terakhirku: “Jika kau menyayangiku, pergilah dari hidupku, ”
itu bukan berarti aku mengusirmu,
itu adalah berita terakhir dari seseorang yang sudah terlalu lelah berharap kau berubah.

Dan ketika kau benar-benar pergi, aku baru sadar bahwa,
mencintaimu ternyata tak cukup untuk membuatmu tetap tinggal.

Kini, aku masih menyayangimu, diam-diam, seperti langit jogja menyayangi awan yang telah pergi.
Tak bisa lagi digapai, hanya bisa dipandang dan dikenang.

Dan jika nanti kau berbahagia dengan seseorang, aku akan terus belajar merelakan, dan tetap mencintaimu dengan cinta yang tak lagi menuntut dan meminta apa-apa.

Karena cinta sejati, kata orang mah, bukan soal memilikimu, tapi soal memberimu jalan buat pulang, yang itu tentu tak harus aku.

Terima kasih sudah memberi makna paling indah yang pernah singgah di hidupku.

Dan maaf... aku mungkin tak pernah bisa benar-benar berhenti mencintaimu.

Selamat tinggal, Devi.
Tapi tidak untuk cintaku padamu–biarkan ia tetap hidup, di tempat yang tak kau lihat, di doa doa yang selalu kupanjatkan.




Dengan cinta yang tak selesai,
Aku.













-jogja, 2025.

Komentar

Postingan Populer